Jumat, 09 Oktober 2015

Psikologi Managemen : Tugas Portofolio 1

Psikologi Manajemen
Tugas Portofolio I


                                         





Nama Anggota Kelompok:
  1. Fitriany Gupita (13513559)
  2. Listyorini Irawan Putri (15513012)
  3. Regina Melisa (15511936)
  4. Yoga Rahadian NF (19513461)






I. Pengantar

A. Definisi Psikologi Manajemen

Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur  sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Sebagai ilustrasi, dulu dalam manajemen, orang berproduksi hanya mengandalkan sumber daya alam. Misalnya, orang berburu, memancing atau memetik hasil hutan saja untuk memenuhi keperluannya. Tetapi lama-kelamaan mulai terasa bahwa dengan menambahkan sumber daya manusia (terutama akalnya), maka orang akan bisa lebih efektif dan efisien dalam berproduksi. Maka mulailah dikenal pertanian, peternakan dan upaya budi daya sumber-sumber alam lainnya.
Setelah itu, timbul lagi kebutuhan akan modal, karena dengan investasi dana tertentu, akan bisa dibuat alat tertentu untuk lebih meningkatkan lagi efisiensi dan efektivitas produksi. Maka sejak zaman revolusi industri, tiga modal kerja yang utama adalah SDA (Sumber Daya Alam), SDU (Sumber Daya Uang) dan SDM (Sumber Daya Manusia), dan ilmu manajemen pun berkisar pada upaya untuk mengoptimalkan kinerja antar ketiga modal kerja itu.
Lalu kaitannya dengan psikologi ialah: dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM (Sumber Daya Manusia) ternyata merupakan yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. Pasalnya, ilmu psikologi yang memang mempelajari perilaku manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb. Dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM (Sumber Daya Manusia) yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan. 
Kegiatan intervensi (yang bertujuan untuk "mengolah" manusia) inilah yang menjadi titik tolak dari kajian ilmu psikologi manajemen. Hal ini bertujuan agar seluruh kayawan / SDM (Sumber Daya Manusia) dari suatu organisasi / perusahaan mengerti betul akan tugasnya, mampu memberikan informasi kepada pelanggan atau rekan sekerjanya, dan pada akhirnya membuat karyawan itu senang pada pekerjaan dan perusahaannya. 

B. Definisi Organisasi 

Organisasi dapat dikatakan sebagai serangkaian sistem yang dinamis yang saling berkaitan satu sama lain, yang dirancang untuk menghadapi tugas-tugas yang rumit.

II. Komunikasi

A. Definisi Komunikasi 

Komunikasi adalah proses sosial dimana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka. Komunikasi juga merupakan penyampaian informasi, gagasan, emosi, ketrampilan, dan sebagainya dengan menggunakan lambang-lambang atau kata-kata, gambar, bilangan, grafik, dan lain-lain. Kegiatan atau proses penyampaiannya biasanya dinamakan komunikasi.          

Komunikasi dibagi menjadi 2 yaitu: 
  1. Komunikasi internal. Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder. Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal. Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, dan lain-lain kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan dan sebagainya kepada pimpinan. Dan pengertian komunikasi horizontal atau lateral adalah komunikasi antara sesama seperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antarbagian dan memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah.
  2. Komunikasi eksternal. Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang  dianggap sangat penting saja.

Komunikasi eksternal terdiri dari jalur yang timbal balik yaitu:
  1. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak. Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, seperti majalah organisasi; press release; artikel surat kabar atau majalah; pidato radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi pers.
  2. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi.
B. Dimensi - Dimensi Komunikasi

Dimensi-dimensi komunikasi meliputi dibawah ini : 
  1. Isi: apa yang dibicarakan dalam komunikasi antara satu orang dengan orang yang lain atau bahkan lebih.
  2. Kebisingan: tinggi rendahnya suara yaang terdengar dalam melakukan komunikasi.
  3. Jaringan: sejauh mana seseorang meluaskan jangkauan informasinya dalam melakukan komunikasi. Diantaranya ada komunikasi yang bergantung  pada (jaringan satelit).
  4. Arah: Komunikasi terbagi menjadi 2 arah yaitu: 1. komunikasi satu arah adalah hanya ada satu orang berbicara menyampaikan infomasi untuk satu orang atau lebih, contohnya: promosi produk tertentu atau guru dikelas.2. Komunikasi 2 arah adalah adanya interaksi antara satu orang yang menyampaikan informasi kemudian satu orang atau lebih juga ikut berbicara, sehingga terciptanya interaksi untuk menyampaikan beberapa informasi.

III. Mempengaruhi Perilaku

A. Pengertian Pengaruh 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 849), “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.” Sementara itu, Surakhmad (1982:7) menyatakan bahwa  pengaruh adalah kekuatan yang muncul dari suatu benda atau orang dan juga gejala dalam yang dapat memberikan perubahan terhadap apa-apa yang ada di sekelilingnya. Jadi, dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh merupakan suatu daya atau kekuatan yang timbul dari sesuatu, baik itu orang maupun benda serta segala sesuatu yang ada di alam sehingga mempengaruhi apa-apa yang ada di sekitarnya.

B. Kunci - Kunci Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku adalah penerapan yang terencana dan sistematis dari prinsip belajar yang telah ditetapkan untuk mengubah perilaku mal adaptif (Fisher & Gochros, 1975).

Karakteristik perubahan perilaku ialah:
  1. Fokus kepada perilaku (prosedur perubahan perilaku dirancang untuk merubah perilaku bukan merubah karakter atau sifat seseorang). Perilaku yang dirubah disebut target perilaku meliputi perilaku yang berlebihan atau perilaku yang tidak/kurang dimiliki oleh orang.
  2. Prosedurnya didasarkan kepada prinsip-prinsip behavioral. Perubahan perilaku adalah penerapan prinsip-prinsip dasar yang awalnya berasal dari penelitian eksperimental dengan binatang dilaboratorium (Skiner, 1938).
  3. Penekanannya kepada peristiwa-peristiwa didalam lingkungan. Perubahan perilaku meliputi asesmen dan perubahan peristiwa-peristiwa lingkungan yang mempunyai hubungan fungsional dengan perilaku.
  4. Treatment dilakukan oleh orang didalam kehidupan sehari-hari (Kazdin, 1994). Perubahan perilaku akan lebih efektif  apabila dikembangkan oleh orang-orang yang berada dilingkungan individu yang perilakunya menjadi target perubahan seperti guru, orangtua atau orang lain yang dilatih tentang perubahan perilaku
  5. Pengukuran perubahan perilaku. Melakukan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi dilakukan untuk melihat perubahan perilaku. Asesmen terus dilakukan setelah intervensi untuk melihat apakah perubahan perilaku yang sudah terjadi dapat terjaga.
  6. Mengabaikan peristiwa-peristiwa masa lalu sebagai penyebab perilaku. Penekanan perubahan perilaku kepada peristiwa-peristiwa lingkungan saat ini yang menjadi penyebab perilaku sebagai dasar pemilihan intervensi perubahan perilaku yang tepat.
  7. Menolak hipotetis yang mendasari penyebab perilaku. Skiner (1974) menjelaskan bahwa dugaan terhadap penyebab yang mendasari perilaku tidak pernah dapat diukur atau dimanipulasi untuk menunjukkan hubungan fungsional perilaku. 
C. Model Mempengaruhi Orang Lain dan Perannya dalam Psikologi Manajemen


Cara mempengaruhi orang lain dengan dasar Pendekatan komunikasi persuasi dikemukakan oleh Aristoteles yang menyatakan terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang mampu mempengaruhi orang lain, yaitu:
  1. Logical argument (logos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan. Hal ini telah disinggung dalam komponen data.
  2. Psychological/ emotional argument (pathos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif. Misalnya, iklan yang menyenangkan, lucu dan membuat kita berempati termasuk menggunakan pendekatan psychological argument dengan efek emosi yang positif. Sedangkan iklan yang menjemukan, memuakkan bahkan membuat kita marah termasuk pendekatan psychological argument dengan efek emosi negatif.
  3. Argument based on credibility (ethos), yaitu ajakan atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya. Contoh, kita menuruti nasehat medis dari dokter, kita mematuhi ajakan dari seorang pemuka agama, kita menelan mentah-mentah begitu saja kuliah dari dosen. Hal ini semata-mata karena kita mempercayai kepakaran seseorang dalam bidangnya.

Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar komunikasi persuasi menjadi lebih efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar lebih berkesan dalam mempengaruhi orang lain. Beberapa pendekatan itu antaranya:
  1. Pendekatan berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang terjadi sebaga bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.
  2. Pendekatan berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang menakutkan bagi audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti pesan yang diberikan komunikator. Misalnya, bila terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah maka pemerintah dengan pendekatan ketakutan dapat mempersuasi masyarakat untuk mencegah DBD.
  3. Pendekatan berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi yang bersifat lucu dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan karena mempunyai efek emosi yang positif. Contoh, iklan-iklan yang menggunakan bintang comedian atau menggunakan humor yang melekat di hati masyarakat.
  4. Pendekatan berdasarkan diksi, yaitu menggunakan pilihan kata yang mudah diingat (memorable) oleh audience / komunikate dengan tujuan membuat efek emosi positif atau negative. Misalnya, iklan rokok dengan dikasi “nggak ada loe nggak rame”.

D. Peran wewenang dalam manajemen

Wewenang merupakan kekuasaan yang memiliki keabsahan (legitimate power). 

Peran wewenang dalam manajemen ialah:
  1. Wewenang lini (Linie authority) yaitu wewenang yang mengalir secara vertikal. Pelimpahan wewenang dari atas ke bawah dan pengawasan langsung oleh pemimpin kepada staf yang menerimanya.
  2. Wewenang staf (Staf authority) yaitu wewenang yang mengalir ke samping yaitu wewenang yang diberikan kepada staf khusus untuk membantu melancarkan tugas staf yang diberikan wewenang lini. Wewenang staf diberikan karena ada spesialisasi adanya tugastugas menegerial yang terkait dengan fungsi staf seperti pengawasan, pelayanan kepada staff, atau penasihat.








Referensi : 
  1. Leavitt, J.H. (1992). Psikologi Manajemen. Alih Bahasa, Zarkasi, M. Jakarta: Erlangga. 

Rabu, 06 Mei 2015

Fenomena Kesehatan Mental dan Teori Kesehatan Mental

Fenomena Kesehatan Mental pada Masyarakat Berdasarkan Teori
Kesehatan mental adalah istilah yang mencakup banyak aspek dari kemampuan kita dalam mengatasi stres dan menikmati hidup. Orang menggunakan istilah kesehatan mental untuk menggambarkan masalah-masalah depresi, pergolakan emosional, rasa sakit emosional atau diagnosis psikologis langsung seperti psikosis atau schizofrenia.
Dalam diagnosis dari banyak masalah atau gangguan kesehatan mental, terapis mengevaluasi faktor psikososial kesehatan mental yang mempengaruhi penderita dan faktor juga sumber dari kesehatan mental.
Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah suatu kondisi kesehatan mental yang terjadi pada setidaknya 10% dari korban tabrakan kendaraan bermotor yang telah menderita cedera fisik. Walaupun memiliki banyak faktor penentu, PTSD kausal terkait dengan nyeri kronis dan penyakit fisik. PTSD pasien memiliki kesehatan fisik secara obyektif buruk, kesan subjektif buruk kesehatan fisik mereka, dan menggunakan intervensi medis yang lebih umum daripada usia dan jenis kelamin rekan-rekan. PTSD memperburuk kondisi seperti sakit biasa seperti sakit kepala pasca-trauma, konsekuensi umum dari whiplash. Hubungan kausal antara PTSD dan nyeri meluas ke arah yang berlawanan juga. Kehadiran sakit kronis beberapa bulan setelah tabrakan kendaraan bermotor memprediksi adanya PTSD. Tingkat keparahan dari pengalaman rasa sakit pada awal perawatan psikologis untuk PTSD juga membatasi efektivitas dari pengobatan tersebut. Peran penyebab nyeri kronis pada eksaserbasi PTSD dapat dipahami sebagai pengingat trauma asli dan, jika salah satu sakit kronis dilihat sebagai mewakili hilangnya sumber daya (yaitu, kehilangan kesejahteraan fisik), nyeri terus seperti akan mempertahankan PTSD gejala lama setelah cedera awal.
Post-traumatic stress disorder adalah diagnosis yang diberikan kepada individu tertekan yang telah terkena beberapa peristiwa yang mengancam kehidupan atau kesejahteraan fisik. Berikut beberapa gejala yang dialami :
  • Foto atau mimpi dari peristiwa traumatis
  • Gejala hyperarousal fisiologis (misalnya konsentrasi defisit, gangguan tidur, lekas marah)
  • Upaya untuk menghindari kegiatan, pikiran, atau emosi yang mengingatkan orang pada peristiwa traumatik. Keadaan kepentingan menurun atau mati rasa emosional

Di tahun-tahun terakhir ini sudah kita ketahui bahwa sering kali terjadi kecelakaan dimana-dimana. Entah itu tabrakan antara mobil dengan mobil, motor dengan motor atau dengan keduanya. Terlebih, yang membuat kita miris terhadap peristiwa kecelakaan ini, para pejalan kaki pun bisa di renggut begitu saja nyawanya oleh pengendara motor atau mobil. Padahal jalan yang di lalui para pejalan kaki sudah tepat. Pada peristiwa ini, sudah pasti para korban (yang masih hidup) ataupun keluarga korban yang ditinggalkan akan mengalami suatu gangguan mental yang luar biasa yang mengakibatkan trauma, seperti misalnya korban tidak mau lagi melewati jalan dimana saat kecelakaan yang dialaminya terjadi, atau menaiki kendaraan yang sama ketika terjadi kecelakaan pada waktu lalu, dsb. Hal ini menimbulkan depresi yang besar atau bahkan bisa menjadi stres karena ketidaksiapan mereka ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka cintai. Hal ini tidak berlangsung sebentar. Semua ini sudah pasti mengganggu kesehatan mental, karena mungkin sebagian dari mereka menahan stres, kemarahan, atau bahkan bisa menimbulkan dendam. Butuh waktu untuk menghilangkan semua perasaan “kacau” pada semua korban. Terlebih, jika korban mengalami luka yang parah dan harus segera dibawa ke ruang gawat darurat. Keadaan ini tidak hanya mengganggu kesehatan mental. Jika terjadi secara berlarut-larut, akan berdampak juga pada kesehatan fisik mereka.
Mental dan fisik adalah dua komponen yang berbeda. Dari segi bahasa, mental sering disebut dengan jiwa (psikis) dan fisik biasa disebut tubuh (raga). Keduanya adalah komponen penyusun manusia, yang saling mempengaruhi. Seperti kata pepatah Yunani “dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa dan pikiran yang sehat
Teori Kesehatan Mental
Teori kesehatan mental menurut beberapa tokoh :
  1. Menurut Dr. Jalaluddin dalam bukunya “Psikologi Agama” bahwa : Kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, serta upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain dengan melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan).
  2. Menurut Zakiah Darajat, kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psichose).
  3. Menurut Pieper dan Uden, kesehatan mental adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya, serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
  4. Menurut Notosoedirjo dan Latipun, mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu: (1) karena tidak mengalami gangguan mental, (2) tidak jatuh sakit akibat stessor, (3) sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya, dan (4) tumbuh dan berkembang secara positif.
  5. Frank, L. K. (dalam Notosudirjo & Latipun, 2005) merumuskan pengertian kesehatan mental secara lebih komprehensif dan melihat kesehatan mental secara ”positif”. Dia mengemukakan bahwa kesehatan mental adalah orang yang terus menerus tumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, menerima tanggung jawab, menemukan penyesuaian (tanpa membayar terlalu tinggi biayanya sendiri atau oleh masyarakat) dalam berpartisipasi dalam memelihara aturan sosial dan tindakan dalam budayanya.

Referensi :
  • http://www.psychologymania.com/2012/02/hubungan-antara-kesehatan-mental-dengan-masyarakat.html
  • http:/translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http//www.bcmj.org/article/post-traumatic-streess-disorder-and-pain-following-motor-vehicle-collisions
  • Ebook Chapter 2 Tentang Kesehatan Mental Universitas Sumatera Utara

Jumat, 24 April 2015

Psikologi Sosial : Social Facilitation, Social Loafing dan Social Deindividuasi

Social Facilitation (Fasilitas Sosial)
Teori fasilitasi sosial pertama kali datang ke cahaya ketika Norman Triplett mulai belajar sifat kompetitif dengan anak-anak. Untuk melakukan hal ini ia memberikan setiap string anak dan telah mereka angin itu. Ketika anak-anak bersaing, mereka jauh lebih produktif. Pikiran ini membuat Triplett berpikir tentang menghapus kompetisi dan menggantinya dengan beberapa bentuk orang yang hanya akan mengawasi proses. Fasilitasi sosial adalah kecenderungan orang untuk melakukan yang lebih baik pada tugas-tugas sederhana ketika di hadapan orang lain. Ini berarti bahwa, setiap kali orang yang sedang diawasi oleh orang lain, mereka akan melakukannya dengan baik pada hal-hal yang mereka sudah baik dalam melakukan. Gagasan bahwa sosial evaluasi memiliki dampak pada kinerja memicu minat dalam psikologi alasan di balik fenomena ini, yang mengarah untuk penelitian lebih lanjut seputar teori fasilitasi sosial dan implikasinya.
Fasilitasi sosial kadang-kadang dikaitkan dengan fakta bahwa orang-orang tertentu lebih rentan terhadap pengaruh sosial , dengan argumen bahwa faktor orang bisa membuat orang-orang ini lebih sadar evaluasi. Karakteristik kepribadian ini dapat menyebabkan beberapa orang untuk lebih sangat dipengaruhi oleh kehadiran pengamat mereka.
Peran fasilitasi sosial penting untuk dipertimbangkan dalam situasi sosial, karena itu berarti bahwa kinerja orang tidak hanya mengandalkan kemampuan mereka, tetapi juga dipengaruhi oleh kesadaran internal sedang dievaluasi. Kinerja dapat sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor situasi, sehingga memungkinkan untuk sepenuhnya mengubah hasil dari situasi. Hal ini dapat menjadi sangat penting ketika mempertimbangkan bagaimana orang akan tampil di bawah evaluasi dan bagaimana berpotensi mempersiapkan situasi mereka. Misalnya, jika praktek pemain basket profesional menembak lemparan bebas dengan palsu penonton kebisingan di latar belakang, dia tidak akan merasa seolah-olah dia berada di bawah banyak evaluasi dalam situasi permainan nyata. Hal ini karena suara-ditekan bebas melempar akan mulai menjadi tugas sederhana daripada tugas yang kompleks karena ia berlatih lebih. Meskipun ia akan tahu bahwa suara palsu tidak mengevaluasi dirinya dengan cara yang sama bahwa orang yang sebenarnya akan, ia menyesuaikan kesadaran tentang evaluasi potensi, dan dengan demikian mencoba untuk memerangi setiap bahaya yang fasilitasi sosial bisa membawa dengan kemampuan shooting-nya.

Social Loafing (Kemalasan Sosial)
Social Loafing dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Kemalasan Sosial, atau Penyandaran Sosial. Selain itu,  Social Loafing sendiri lebih dikenal sebagai fenomena hilangnya produktifitas (George, 1992, dalam Liden, dkk, 2004).
Social loafing adalah berkurangnya motivasi dan usaha saat individu bekerja secara kolektif didalam kelompok jika dibandingkan dengan ketika ia bekerja secara individual atau bekerja sebagai koaktor independen. (Karau dan Williams, 1993). Menurut Reber & Reber (2010) Social Loafing adalah kecenderungan individu mereduksi upaya yang mereka lakukan terhadap sejumlah tugas ketika bekerja bersama dengan orang lain.
CEM memperkirakan bahwa social loafing akan paling lemah ketika individu bekerja dalam kelompok kecil daripada dalam kelompok besar, ketika mereka bekerja pada tugas yang secara instrinsik menarik atau penting bagi mereka, ketika mereka bekerja dengan orang-orang yang dihargai (teman-teman, rekan tim dll), ketika mereka memperkirakan teman sekerja mereka bekerja secara buruk ,serta ketika mereka datang dari budaya yang menekankan pada usaha dan hasil individual daripada kelompok (namun terdapat pengecualian di beberapa budaya Asia, yang menekankan pada kebaikan-kebaikan kolektif dan bukan hasil individual, social loafing tidak tampak terjadi.
Social loafing dapat dikurangi  dengan beberapa cara : dengan membuat hasil akhir teridentifikasi secara individual dengan meningkatkan komitmen pada tugas dan meningkatkan perasaan bahwa tugas tersebut penting serta dengan meyakinkan bahwa kontribusi dari setiap anggota pada tugas adalah unik.

Social Deindividuasi
Deindividuasi merupakan suatu keadaan dimana identitas dan kesadaran diri berkurang secara nyata, individu lebih memfokuskan diri pada kelompok sehingga rasa tanggungjawab pun menjadi kabur (Zanden, dalam Setiyadi, 2002). Menurut Lorenz (dalam Dayakisni dan Hudaniah, 2006) menyebutkan bahwa deindividuasi dapat mengarahkan individu kepada keleluasaan dalam melakukan agresi sehingga agresi yang dilakukannya menjadi lebih intens, karena deindividuasi menyingkirkan atau mengurangi peranan beberapa aspek yang terdapat pada individu, yakni identitas diri pelaku maupun identitas diri korban agresi, serta keterlibatan emosi pelaku agresi terhadap korbannya.
faktor penyebab Deindividuasi
Deindividuasi disebabkan oleh beberapa factor, yaitu diantaranya :
·         Rendahnya Identiafibilitas seseorang
·         Rasa keanggotaan dalam kelompok
Rasa kenaggotaan kelompok  menjadi factor yang menyebabkan terjadinya Deindividuasi, ini dikarenakan Rasa kenaggotaanyang kurang didalamnya.
·         Ukuran kelompok
Ukuran kelompok disini dimaksudkan semakinbesar ukuran dari sebuah kelompok tertentu makan akan semakin besar kemungkinan terjadinya deindividuasi didalamnya.
·         Kebangkitan Personil
Setiap individu didalam kelompok harus mempunyai ikatan yang sama kuat antara yang satu dan yang lainnya. Karena merupakan fondasi yag penting untuk Kebangkitan antar anggotanya yang akan semakin menjauhkan kelompok tersebut dari terjadinya Deindviduasi.

Referensi :
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Social_facilitation&prev=search


Jumat, 17 April 2015

Tugas Softskill 1 Pengulangan

·         Definisi Konsepsional atau Pengertian Kreativitas 4P (Pribadi, Proses, Produk dan Pendorong)
Pengertian kreativitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta atau daya cipta. Kreativitas dahulu dianggap sebagai ”anugrah yang ajaib”, yang hanya dimiliki oleh  segelintir orang. Sekarang kita tahu bahwa kecerdasan merupakan anugrah ajaib yang dimiliki semua orang.
Kreativitas merupakan kelompok kedua yang dimiliki seseorang berbakat dalam kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk dilihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
Konsepsional berasal dari kata konsepsional yaitu hubungan antara konsep khusus yang akan diteliti. Istilah konsepsional adalah pengarah atau pedoman yang masih abstrak sehingga membutuhkan pelengkapnya yaitu definisi operasional. Konseptual kreativitas adalah sesuatu yang menggambarkan adanya hubungan antara konsep yang khusus dengan konsep yang akan diteliti.
·         Definisi Pribadi (Person)
Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya.
·         Definisi Proses (Process)
Ditinjau sebagai proses, kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai, dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil-hasilnya.
·         Definisi Pendorong (Press)
Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungan.
·         Definisi Produk (Product)
Definisi produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna.
·         Definisi Operasional kreativitas
Kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri – ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal – hal yang sudah ada, yang semuanya itu relative berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
·         Definisi Kreativitas Menurut Clark
Kreativitas merupakan ekspresi tertinggi keterbakatan dan sifatnya terintegrasikan, yaitu sintesa dari semua fungsi dasar manusia yaitu : berfikir, merasa, menginderakan dan intuisi (basic function of thingking, feelings, sensing and intuiting).
·         Teori Kreativitas Menurut Tokoh-Tokoh
·         Menurut Freud
Proses kreatif berasal dari mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat diterima. Karena mekanisme pertahanan mencegah pengamatan yang cermat dari dunia, dan karena menghabiskan energi psikis, mekanisme pertahanan biasanya merintangi produktifitas kreatifitas. Sehingga biasanya mekanisme pertahanan merintangi produktivitas kreatif. Meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, namun justru mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama dari kreativitas.
·         Menurut Ernest Kris
Orang-orang yang kreatif adalah mereka yang paling mampu memanggil bahan-bahan alam pikiran tidak sadar. Sebagai orang dewasa kita tidak mengalami hambatan untuk bisa seperti anak dalam pikiran mereka. Mereka dapat mempertahankan sikap bermain dengan masalah-masalah serius dalam kehidupan. Dengan demikian, mereka mampu melihat masalah-masalah dengan cara yang segar dan inovatif untuk “regress in the service of the ego”.
·         Menurut Jung
Ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Alam pikiran yang tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi. Disamping itu, ingatan kabur dari pengalaman-pengalaman seluruh umat manusia tersimpan disana. Secara tidak sadar kita “mengingat” pengalaman-pengalaman yang paling berpengaruh dari nenek moyang kita. Dari ketidaksadaran kolektif ini timbul penemuan, teori, seni, dan karya-karya baru lainnya. Proses inilah yang menyebabkan kelanjutan dari eksistensi manusia.
·         Menurut Abraham Maslow
Manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan ini harus dipenuhi dalam urutan hierarki seperti kebutuhan primitif muncul pada saat lahir dan kebutuhan tinggi berkembang sebagai proses pematangan individu. Kebutuhan-kebutuhan itu, diwujudkan Maslow sebagai hirarki kebutuhan manusia, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Kebutuhan-kebutuhan tersebut mempunyai urutan hierarki. Keempat Kebutuhan pertama disebut kebutuhan “deficiency”. Kedua Kebutuhan berikutnya (aktualisasi diri dan estetik atau transendentasi) disebut kebutuhan “being”. Proses perwujudan diri erat berkaitan dengan kreativitas. Bebas dari neurosis, orang yang mewujudkan dirinya mampu memusatkan dirinya pada yang hakiki. Mereka dapat mencapai apa yang disebut oleh Maslow “peak experience” – saat mendapat kilasan ilham (flash of insight) yang menyebabkan kegembiraan dan rasa syukur karena hidup.
·         Menurut Carl Rogers
Menegaskan bahwa satu persyaratan utama bagi berkembangannya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan. Kebebasan untuk berpikir, menyatakan pikiran, mencipta, yang dapat kita ringkaskan pada moyangnya segala rupa kebebasan yang menjadi hak asasi manusia, yakni adanya kebebasan melakukan pilihan (freedom of choice). Menurut pengalaman Rogers dalam psikoterapi, penciptaan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis memungkinkan timbulnya kreatifitas yang konstruktif.
·         Menurut Csikzenmihalyi
Faktor pertama yang memudahkan munculnya kreativitas adalah sifat keturunan bawaan (genetic predisposition) untuk ranah tertentu. Orang yang pendengarannya tajam dan peka terhadap berbagai jenis suara lebih mudah untuuk menjdai pemain musik atau pekerjaan yang berhubungan dengan suara. Selain sifat bawaan, faktor ke dua yang memungkinkan tumbuhnya kreativitas adalah minat dalam ranah tertentu pada saat masih dalam usia dini. Minat itulah menjadikan anak terlibat secara intern dalam ranah tersebut sehingga mencapai kemahiran dan keunggulan kreativitas pada masa-masa selanjutnya.
Faktor ketiga adalah faktor keberuntungan. Anak yang dilahirkan dalam keluarga mampu akan memperoleh berbagai fasilitas yang dibutuhkan seperti alat-alat permainan dibandingkan anak yang dilahirkan dalam keluarga miskin. Hal ini akan erat kaitannya denagn pertumbuhan bakat dan kreativitas anak.
Faktor keempat adalah kemampuan berkomunikasi dan berintekrasi dengan sejawat atau acces to a field. Orang yang kreatif ditandai kemampuannya dalam penyusuaikan diri pada setiap situasi sehingga mampu melakukan apa yang harus dilakukan untuk merealisasikan tujuan.

Produk Kreativitas yang Sedang Booming
Mungkin banyak dari kita yang sangat senang minum minuman berkaleng. Minuman kaleng yang telah habis diminum membuat kaleng bekas minuman tersebut menjadi sampah. Sampah kaleng tersebut sangat sulit untuk terurai. Daripada menjadi sampah dan dapat mengotori lingkungan, ada baiknya sampah kaleng tersebut diubah menjadi produk produk kreativitas yang dapat membuahkan hasil bila dijual.

Kaleng bekas dari produk minuman karbonasi,  biasanya dimanfaatkan untuk wadah benda-benda kecil di rumah. Jika anda punya inspirasi yang bagus, kaleng-kaleng bekas tersebut bisa dibentuk menjadi kerajinan yang berharga, misalnya miniatur mobil, hiasan dinding, tempat tisu,  asbak, dan lainnya. Ada juga seorang bernama Kusnodin yang menyulap kaleng bekas menjadi kerajinan replika burung merak. Pada suatu pameran, produk tersebut sangat menarik perhatian para pengunjung dan banyak diliput oleh wartawan.

Ada nilai lebih yang dirasakan oleh seorang konsumen jika membeli produk yang dibuat dari barang bekas. Selain adanya rasa bangga ketika menunjukkan kepada teman-temannya bahwa barang yang ia miliki adalah buah karya dari produk bekas yang dibuat dengan keterampilan khusus, para konsumen juga merasa ikut membantu mengurangi limbah sampah yang membanjiri bumi, sebagai bagian dari program “Go.. Green”. 



Banyak dari kita sangat senang minum minuman berkaleng. Minuman kaleng yang telah habis diminum membuat kaleng bekas minuman tersebut menjadi sampah. Sampah kaleng tersebut sangat sulit untuk terurai. Daripada menjadi sampah dan dapat mengotori lingkungan, ada baiknya sampah kaleng tersebut diubah menjadi produk produk kreativitas yang dapat membuahkan hasil bila dijual.
Mungkin agak sulit membuat produk kreativitas ini, tapi apa salahnya bila mencoba dan belajar kepada ahlinya semenjak kita masih memiliki niat untuk belajar membuatnya.


Pendapat Saya :
Pendapat saya tentang produk kreativitas dari kaleng ini adalah mencoba untuk membuat produk kreatif dari kaleng ini sangat berguna untuk mengurangi limbah, apalagi limbah dari kaleng termasuk limbah yang sangat sulit untuk terurai. 
Menurut saya, anak - anak muda era masa kini, sangat disarankan untuk mencoba membuat produk kreativitas dari bahan dasar kaleng ini. Selain untuk mengurangi limbah, hal ini juga dapat mencoba mengasah kreativitas yang dimiliki oleh anak - anak muda masa kini. 

Kesimpulan :
Dari produk kreatifitas diatas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan yaitu selain sebagai limbah yang sulit terurai, kaleng bekas minuman berkarbonasi juga dapat diubah menjadi produk kreativitas yang bernilai tinggi. Sebagai contoh seorang bernama Kusnodin yang menyulap kaleng bekas menjadi kerajinan replika burung merak.


·     Mengapa laki – laki menunjukan kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan terutama setelah berlalunya masa kanak – kanak?
Anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki lebih diberi kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman sebayanya untuk lebih mengambil resiko, dan didorong oleh para orang tua dan guru untuk lebih menunjukkan inisiatif dan orisinalitas.















Referensi :
file.unj.edu/Direktori/FPEB/PRODI.../Makalah_Pengembangan_Kreativitas.pdf
Tim Redaksi.1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
http://www.kerjausaha.com/2013/01/aneka-usaha-memanfaatkan-barang-bekas.html